ROSÉ 'toxic till the end' (2024): Anthem Emo-Pop tentang Cinta yang Merusak Diri
Pada 6 Desember 2024, Rosé merilis "toxic till the end" sebagai single ketiga dari album studio debut solonya, rosie, yang dirilis pada hari yang sama melalui label barunya, The Black Label, bekerja sama dengan Atlantic Records. Lagu ini hadir setelah kesuksesan besar "APT." bersama Bruno Mars, sekaligus menjadi salah satu momen paling personal dan jujur dalam perjalanan Rosé sebagai artis solo yang telah sepenuhnya lepas dari naungan YG Entertainment.
Latar Belakang dan Proses Produksi
"toxic till the end" ditulis oleh Rosé bersama penulis lagu asal New York, Michael Pollack, serta Emily Warren dan Evan Blair, dengan Evan Blair juga bertindak sebagai produser lagu ini. Mengusung genre emo-pop, power pop, dan synth-pop, lagu ini direkam di studio Glenwood Place Recording, Burbank, tempat yang sama dengan proses produksi "APT." sebelumnya.
Menurut pengakuan Rosé kepada Zane Lowe dari Apple Music, lagu ini terinspirasi dari sosok mantan kekasihnya yang digambarkannya sebagai pribadi yang posesif, cemburu, dan sangat manipulatif. Topik tersebut sudah terlalu sering dibicarakan Rosé bersama teman-temannya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menuliskannya menjadi sebuah lagu. Judul awal yang sempat dipertimbangkan adalah "the ex", sebelum akhirnya ia memilih judul yang lebih menggigit, "toxic till the end".
Pencapaian di Tangga Lagu Korea Selatan dan Internasional
Sebagai bagian dari album rosie, "toxic till the end" turut mencatatkan sejumlah pencapaian yang solid di berbagai tangga lagu:
Menduduki posisi keempat di tangga lagu Korea Selatan, salah satu posisi tertinggi yang diraih single dari album rosie di negara asal Rosé sebagai bagian dari BLACKPINK.
Menduduki posisi keenam di Billboard Global Excl. US Chart, menegaskan daya tarik lagu ini di luar pasar Amerika Serikat.
Turut masuk ke ARIA Top 50 Singles Chart Australia di posisi ke-31 tak lama setelah perilisan.
Menjadi bagian dari album rosie yang meraih penghargaan Millions Top 10 di ajang Melon Music Awards 2025, salah satu ajang penghargaan musik paling bergengsi di Korea Selatan.
Meski pencapaian chart-nya tidak sefenomenal "APT.", "toxic till the end" tetap menjadi salah satu lagu paling dibicarakan dari album rosie berkat kejujuran emosional dan kedalaman naratif liriknya yang jarang ditemukan pada lagu-lagu pop mainstream pada umumnya.
Bagian dari Narasi Emosional Album Rosie
Video musik "toxic till the end" bergaya sinema tahun 90-an, menggambarkan siklus hubungan yang penuh kekacauan emosional maupun fisik, dengan adegan yang bergantian antara momen kasih sayang dan pertengkaran. Lagu ini menjadi bagian dari benang merah naratif album rosie yang secara keseluruhan menceritakan perjalanan Rosé melewati hubungan yang menyakitkan menuju proses penyembuhan diri, saling terhubung dengan lagu-lagu lain dalam album seperti "3am", "two years", dan "gameboy".
Kritik terhadap "toxic till the end"
Secara umum, "toxic till the end" mendapat sambutan positif dari kritikus musik, terutama berkat kejujuran emosional yang jarang ditemukan pada lagu pop mainstream. Sebuah ulasan dari media kampus THHS Classic bahkan memberikan penilaian delapan dari sepuluh untuk keseluruhan album, dengan menyebut kedalaman emosi dalam lagu ini sebagai pembeda dari lagu putus cinta pada umumnya.
Meski demikian, beberapa pengamat musik menilai durasi lagu yang relatif singkat, hanya sekitar dua menit tiga puluh tujuh detik, membuat intensitas emosional yang dibangun terasa berakhir terlalu cepat. Ada pula catatan bahwa posisi chart lagu ini tidak sebesar pencapaian "APT.", sehingga sebagian pendengar kasual mungkin melewatkan kedalaman lirik yang sebenarnya menjadi kekuatan utama lagu ini.
Pujian atas Kejujuran Lirik dan Gaya Visual Nostalgik
Di sisi lain, banyak kritikus musik memuji keberanian Rosé dalam menuliskan pengalaman personalnya secara gamblang, tanpa berusaha menghaluskan realitas hubungan yang toksik tersebut. Gaya visual video musik yang mengingatkan pada estetika film tahun 90-an dan synth beat yang terasa nostalgik turut dipuji sebagai pilihan artistik yang tepat untuk memperkuat suasana emosional lagu ini.
Opini: Sisi Rentan yang Memperkuat Identitas Solo Rosé
"toxic till the end" dapat dilihat sebagai bukti bahwa Rosé mampu menghadirkan sisi yang jauh lebih personal dan rentan dibandingkan citranya sebagai bagian dari BLACKPINK. Jika "APT." menampilkan sisi ceria dan energik Rosé lewat kolaborasi globalnya bersama Bruno Mars, maka "toxic till the end" menunjukkan keberanian yang berbeda, yaitu kejujuran dalam mengolah luka pribadi menjadi karya seni yang relatable bagi banyak pendengar.
Keputusan untuk menuliskan pengalaman pribadinya secara terbuka, alih-alih menyamarkannya dalam metafora yang lebih aman, menegaskan bahwa Rosé kini memiliki kebebasan artistik penuh sebagai solois di bawah label barunya. Pendekatan ini juga memperkaya keragaman tematik album rosie secara keseluruhan, menjadikannya lebih dari sekadar kumpulan lagu hit, melainkan sebuah narasi emosional yang utuh tentang proses penyembuhan diri.
Pertanyaan Seputar ROSÉ "toxic till the end"
Kapan "toxic till the end" dirilis?
Lagu ini dirilis pada 6 Desember 2024 sebagai single ketiga dari album studio debut solo Rosé, rosie.
Siapa yang menulis lagu ini?
Lagu ini ditulis oleh Rosé bersama Michael Pollack dan Emily Warren, dengan produksi oleh Evan Blair.
Tentang apa lagu "toxic till the end"?
Lagu ini menceritakan hubungan asmara yang toksik dengan mantan kekasih Rosé yang digambarkannya sebagai posesif, cemburu, dan manipulatif.
Di posisi berapa lagu ini di tangga lagu Korea Selatan?
"toxic till the end" menduduki posisi keempat di tangga lagu Korea Selatan dan posisi keenam di Billboard Global Excl. US Chart.
Kesimpulan
"toxic till the end" adalah bukti nyata keberanian Rosé dalam mengolah pengalaman pribadi yang menyakitkan menjadi karya musik yang jujur dan menyentuh. Meski tidak sefenomenal "APT." dari segi pencapaian chart, lagu ini tetap menjadi salah satu bagian terpenting dari album rosie yang memperlihatkan kedalaman emosional dan kematangan artistik Rosé sebagai penulis lagu di luar bayang-bayang BLACKPINK.